Kandangan

Kamis, 05 November 2026

KANDANGAN KOTA PETARUNG

 

KANDANGAN KOTA PETARUNG

Menelusuri Jejak Keberanian, Kepahlawanan, dan Jiwa Pejuang Urang Banua

Kandangan, Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan

Kandangan bukan sekadar sebuah kota kecil di jantung Hulu Sungai Selatan. Di balik kehidupan masyarakatnya yang religius, ramah, dan menjunjung tinggi adat istiadat, Kandangan menyimpan sejarah panjang tentang keberanian, perjuangan, dan semangat pantang menyerah.

Julukan Kandangan Kota Petarung bukan semata-mata menggambarkan masyarakat yang memiliki keberanian dalam menghadapi pertarungan fisik. Lebih dari itu, julukan ini mencerminkan karakter masyarakat yang memiliki jiwa pejuang, harga diri, keteguhan prinsip, serta keberanian mempertahankan tanah kelahiran.

1. Kandangan dan Sejarah Perlawanan

Sejarah Hulu Sungai Selatan tidak dapat dipisahkan dari perjuangan rakyat Banjar melawan penjajahan Belanda.

Pada masa Perang Banjar, kawasan Hulu Sungai menjadi salah satu wilayah penting dalam perjuangan rakyat mempertahankan kedaulatan dan kehormatan tanah Banua.

Salah satu peristiwa bersejarah adalah perlawanan rakyat Hantarukung pada September 1899. Peristiwa yang dikenal sebagai Amuk Hantarukung menjadi bukti bahwa keberanian rakyat Hulu Sungai Selatan telah tercatat dalam perjalanan sejarah perjuangan Kalimantan Selatan.

Perlawanan tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat Banua tidak mudah menyerah ketika menghadapi penindasan.

2. Parang Bungkul: Simbol Keberanian Urang Kandangan

Berbicara tentang Kandangan Kota Petarung, kita tidak bisa melupakan Parang Bungkul.

Parang Bungkul merupakan senjata tradisional yang memiliki bentuk khas dengan ujung melengkung atau membungkul. Bagi masyarakat Hulu Sungai Selatan, parang ini bukan hanya alat untuk bekerja, tetapi juga memiliki nilai sejarah dan budaya.

Pada masa lalu, parang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, baik untuk membuka lahan, bekerja di kebun, maupun sebagai alat pertahanan diri.

Parang Bungkul juga memiliki kedudukan istimewa dalam identitas daerah. Senjata tradisional ini menjadi salah satu unsur lambang Kabupaten Hulu Sungai Selatan sejak 5 September 1965.

Nilai yang terkandung di dalamnya adalah sifat kepahlawanan dan jiwa membangun.

Dengan demikian, Parang Bungkul dapat dipandang sebagai simbol keberanian, ketangguhan, dan semangat membangun masyarakat Kandangan.

3. Bakuntau dan Tradisi Bela Diri Banua

Kandangan juga memiliki hubungan erat dengan perkembangan seni bela diri tradisional Banjar, yaitu kuntau.

Kuntau bukan sekadar seni mempertahankan diri, melainkan bagian dari warisan budaya yang diwariskan antargenerasi.

Di Hulu Sungai Selatan terdapat sejumlah perguruan kuntau. Salah satu yang dikenal dalam sejarah perkembangan kuntau di daerah ini adalah Perguruan Jasa Datu di Kandangan.

Seni bela diri tersebut mengajarkan ketangkasan, kedisiplinan, keberanian, pengendalian diri, dan penghormatan kepada guru.

Inilah salah satu gambaran bahwa budaya petarung di Kandangan tidak hanya berbicara tentang kekuatan fisik, tetapi juga tentang ilmu, latihan, dan kehormatan.

4. Jiwa Petarung dalam Perjuangan Kemerdekaan

Semangat perjuangan masyarakat Kandangan terus terlihat pada masa revolusi kemerdekaan Indonesia.

Salah satu tokoh penting dari Kalimantan Selatan adalah Brigadir Jenderal Hasan Basry, pemimpin perjuangan ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan.

Perjuangan rakyat Kalimantan Selatan mencapai salah satu tonggak penting melalui Proklamasi 17 Mei 1949 yang menyatakan Kalimantan sebagai bagian dari Republik Indonesia.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa semangat mempertahankan tanah air merupakan bagian penting dari sejarah perjuangan masyarakat Banua.

Kandangan dan wilayah Hulu Sungai Selatan memiliki tempat tersendiri dalam perjalanan sejarah tersebut.

5. Petarung Bukan Berarti Suka Kekerasan

Julukan Kandangan Kota Petarung harus dimaknai secara bijaksana.

Petarung sejati bukanlah orang yang gemar mencari musuh atau melakukan kekerasan. Petarung sejati adalah mereka yang berani membela kebenaran, menjaga kehormatan, melindungi keluarga, mempertahankan budaya, dan memperjuangkan masa depan daerahnya.

Nilai seorang petarung terletak pada keberanian yang disertai akhlak, kekuatan yang disertai kebijaksanaan, serta ketegasan yang tetap menjunjung tinggi kemanusiaan.

Generasi muda Kandangan perlu mewarisi semangat tersebut melalui pendidikan, olahraga, seni bela diri, pelestarian budaya, dan prestasi.

6. Membangun Identitas Kandangan Kota Petarung

Sudah saatnya sejarah perjuangan dan warisan budaya Kandangan terus diperkenalkan kepada generasi muda.

Parang Bungkul, kuntau, kisah para pejuang, serta berbagai tradisi masyarakat Banua merupakan kekayaan identitas yang patut dijaga.

Kandangan tidak hanya dikenal melalui Ketupat Kandangan dan kekayaan kulinernya, tetapi juga melalui sejarah perjuangan dan karakter masyarakatnya.

Kita perlu membangun identitas daerah yang kuat dengan tetap menjaga nilai agama, adat, persaudaraan, dan budaya.

PENUTUP: DARAH PEJUANG, JIWA PEMBANGUN

Kandangan Kota Petarung adalah sebuah ungkapan tentang keberanian dan ketangguhan masyarakat Hulu Sungai Selatan.

Dari kisah perjuangan rakyat melawan penjajahan, warisan Parang Bungkul, seni bela diri kuntau, hingga perjuangan mempertahankan kemerdekaan, semuanya memberikan pelajaran tentang arti keberanian dan harga diri.

Namun, tantangan generasi sekarang bukan lagi mengangkat senjata untuk berperang, melainkan berjuang melalui ilmu pengetahuan, persatuan, agama, budaya, dan pembangunan.

Kandangan boleh dikenal sebagai Kota Petarung, tetapi petarung sejati adalah mereka yang berani menjaga kehormatan, membela kebenaran, dan membangun masa depan Banua.

Kandangan Kota Petarung: Berani dalam perjuangan, teguh dalam pendirian, santun dalam pergaulan, dan kuat dalam persatuan.

Rabu, 04 November 2026

AYAH DATU KALAMPAYAN

Mengenai asal-usul tempat lahir Syekh Abdullah bin Abu Bakar (ayah dari Datu Kalampayan), terdapat beberapa versi riwayat sejarah di kalangan sejarawan dan zuriat (keturunan) Banjar:

Versi Wilayah Pahuluan (Kampung Jambu, Kandangan)

Dalam catatan sejarah lokal dan penelitian ulama Banjar (seperti Tim LP2M UIN Antasari), terdapat riwayat yang menyebutkan bahwa Syekh Abdullah bin Abu Bakar berasal dari daerah Pahuluan, tepatnya di Kampung Jambu, dekat kota Kandangan (Hulu Sungai Selatan). Beliau didatangkan ke istana/keraton Kesultanan Banjar di Martapura karena keahliannya dalam bidang pertukangan, sebelum akhirnya menetap di Lok Bangku / Lok Gabang hingga akhir hayatnya.

Selasa, 03 November 2026

KANDANGAN KOTA PETARUNG

 Kota Kandangan—ibu kota Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan—sering dijuluki sebagai "Tanah Para Jawara", Bumi Para Pejuang, atau diasosiasikan sebagai wilayah dengan tradisi keberanian, seni bela diri, serta sejarah perlawanan yang kuat.

Beberapa hal utama di balik identitas dan sejarah tersebut meliputi:

• Akar Sejarah dan Perlawanan: Kandangan memiliki catatan sejarah penting sebagai pusat perlawanan rakyat terhadap penjajahan kolonial (seperti peristiwa heroik Amuk Hantarukung) dan menjadi basis pergerakan Divisi IV ALRI Kalimantan.

• Tradisi Hulu Balang dan Wasi (Senjata Tajam): Masyarakat lokal zaman dulu memiliki tradisi kepemimpinan dan pengawalan oleh para hulu balang serta jawara yang lekat dengan kebiasaan membawa senjata tajam tradisional khas seperti Parang Bungkul (yang juga diabadikan dalam simbol daerah Hulu Sungai Selatan). Senjata ini dahulu dipandang sebagai simbol kehormatan, harga diri, dan pertahanan diri.

• Pusat Beladiri Kuntau: Kandangan dikenal sebagai salah satu tempat berkembangnya berbagai aliran seni bela diri tradisional Banjar, salah satunya perguruan Kuntau seperti "Jasa Datu" yang kemudian melahirkan banyak cabang perguruan di Kalimantan Selatan.

• Perubahan Zaman: Seiring perkembangan hukum, aturan membawa senjata tajam di tempat umum, serta modernisasi, tradisi membawa wasi di keseharian sudah sangat berkurang. Generasi muda di Kandangan kini lebih mengarahkan semangat juang tersebut ke dalam prestasi, pendidikan, dan pembangunan daerah.

Senin, 02 November 2026

KANDANGAN KOTA PETARUNG

 Kota Kandangan, ibu kota Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan, memiliki sejarah panjang yang membuatnya kerap diasosiasikan sebagai wilayah para jawara, petarung, atau pusat perjuangan.

Beberapa alasan mengapa Kandangan lekat dengan identitas tersebut meliputi:
  • Pusat Perlawanan dan Revolusi: Secara historis, Kandangan menjadi salah satu pusat perlawanan penting pada masa revolusi fisik serta basis perjuangan Divisi IV ALRI Pertahanan Kalimantan. Wilayah ini dikenal melahirkan banyak pejuang dan gerilyawan tangguh.
  • Tradisi Hulu Balang dan Jawara: Masyarakat Kandangan pada masa lampau dikenal memiliki tradisi persilatan, ketangguhan bela diri, dan kebiasaan membawa senjata tajam tradisional (wasi) yang diwariskan dari para hulu balang serta penjaga keamanan wilayah (jawara).
  • Penolakan terhadap Kekuasaan Luar: Dalam cerita rakyat dan sejarah lokal, masyarakat Kandangan dikenal memiliki karakter mandiri dan keras dalam mempertahankan wilayahnya dari pengaruh atau dominasi luar (seperti riwayat penolakan tunduk terhadap kekuasaan kerajaan lama di Kalimantan).

Minggu, 01 November 2026

Kandangan Kota Petarung

 

KANDANGAN KOTA PETARUNG

Bumi Para Pejuang, Berjiwa Kesatria, Pantang Menyerah

Oleh: Kamal Ansyari

Kandangan merupakan ibu kota Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan. Kota ini tidak hanya dikenal dengan kekayaan kuliner seperti Ketupat Kandangan dan Dodol Kandangan, tetapi juga memiliki sejarah perjuangan, tradisi, serta karakter masyarakat yang kuat.

Ungkapan “Kandangan Kota Petarung” merupakan gambaran semangat dan kebanggaan terhadap jati diri masyarakat Kandangan. Petarung dalam konteks ini bukan sekadar orang yang berani mengangkat senjata atau bertanding secara fisik, melainkan pribadi yang memiliki keberanian, keteguhan hati, harga diri, dan semangat pantang menyerah dalam menghadapi kehidupan.

1. Kandangan dan Sejarah Perjuangan

Hulu Sungai Selatan memiliki catatan sejarah perjuangan rakyat Kalimantan Selatan dalam mempertahankan tanah air dan melawan penjajahan. Semangat perjuangan tersebut menjadi bagian penting dari identitas masyarakatnya.

Kisah perjuangan para pendahulu mengajarkan bahwa kemerdekaan, kehormatan, dan martabat bangsa harus diperjuangkan dengan keberanian dan pengorbanan.

Karena itu, semangat petarung hendaknya dimaknai sebagai keberanian membela kebenaran, menjaga kehormatan, dan memperjuangkan kehidupan yang lebih baik.

2. Parang Bungkul sebagai Identitas Budaya

Salah satu benda budaya yang memiliki hubungan dengan identitas Kabupaten Hulu Sungai Selatan adalah Parang Bungkul.

Parang Bungkul dikenal sebagai senjata tradisional khas daerah Kandangan dan menjadi salah satu unsur dalam lambang Kabupaten Hulu Sungai Selatan.

Keberadaan Parang Bungkul mengingatkan kita pada warisan budaya, keberanian, dan semangat masyarakat dalam menjaga jati diri daerah.

Parang bukan untuk mengajarkan kekerasan, tetapi menjadi pengingat sejarah dan tanggung jawab generasi penerus untuk melestarikan warisan leluhur.

3. Jiwa Petarung Masyarakat Kandangan

Jiwa petarung masyarakat Kandangan dapat diwujudkan melalui beberapa sikap:

  • Berani membela kebenaran dan keadilan.
  • Tidak mudah menyerah menghadapi kesulitan.
  • Menjaga kehormatan dan harga diri.
  • Memiliki semangat gotong royong.
  • Menghormati orang tua dan para pendahulu.
  • Menjaga adat istiadat dan budaya daerah.
  • Berani menghadapi tantangan zaman dengan ilmu pengetahuan.

Inilah makna petarung yang sesungguhnya: kuat dalam prinsip, santun dalam pergaulan, dan bertanggung jawab dalam kehidupan.

4. Kekayaan Budaya Kandangan

Kandangan mempunyai kekayaan budaya yang patut dibanggakan. Di antaranya:

  • Parang Bungkul sebagai warisan budaya daerah.
  • Ketupat Kandangan sebagai kuliner khas.
  • Dodol Kandangan sebagai makanan tradisional.
  • Bahasa Banjar sebagai identitas komunikasi masyarakat.
  • Tradisi keagamaan dan gotong royong.
  • Kekayaan budaya Dayak Meratus di kawasan Loksado, termasuk tradisi Aruh Ganal.

Kekayaan tersebut merupakan warisan yang harus dijaga dan diperkenalkan kepada generasi muda.

5. Generasi Muda sebagai Petarung Masa Kini

Pada masa sekarang, perjuangan tidak selalu dilakukan dengan senjata. Tantangan generasi muda jauh lebih luas, mulai dari pendidikan, ekonomi, teknologi, pergaulan, hingga menjaga moral dan akhlak.

Generasi muda Kandangan harus menjadi petarung dalam bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, kewirausahaan, olahraga, kebudayaan, dan pengabdian kepada masyarakat.

Jangan sampai generasi penerus hanya bangga dengan sejarah masa lalu, tetapi tidak mampu menciptakan prestasi pada masa sekarang.

Petarung sejati adalah mereka yang mampu mengalahkan kemalasan, mengendalikan hawa nafsu, menjauhi narkoba, menjaga persatuan, serta memberikan manfaat bagi orang lain.

6. Penutup: Menjaga Nama Baik Kandangan

Kandangan bukan hanya sebuah kota, tetapi juga bagian dari perjalanan sejarah dan kebudayaan masyarakat Hulu Sungai Selatan.

Semangat “Kandangan Kota Petarung” hendaknya menjadi motivasi untuk membangun masyarakat yang berani, berkarakter, berbudaya, religius, dan berprestasi.

Mari kita jaga warisan leluhur, hormati sejarah perjuangan, lestarikan budaya, dan bangun masa depan dengan ilmu pengetahuan serta akhlak mulia.

KANDANGAN KOTA PETARUNG!

Bumi Para Pejuang, Berjiwa Kesatria, Pantang Menyerah!

Berani karena benar, kuat karena bersatu, dan bermartabat karena berakhlak.

KANDANGAN KOTA PETARUNG

 KANDANGAN – KOTA PETARUNG

Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, memiliki sejarah panjang perjuangan dan keberanian masyarakatnya.

Julukan Kota Petarung dapat menjadi ungkapan kebanggaan terhadap:

Semangat Pejuang: mengenang perjuangan rakyat Hulu Sungai Selatan.

Keberanian: melambangkan keteguhan dan pantang menyerah.

Parang Bungkul: salah satu identitas budaya dan lambang daerah.

Jiwa Kesatria: menjunjung kehormatan, keberanian, dan tanggung jawab.

Harga Diri: menjaga adat, budaya, dan martabat daerah.

Minggu, 29 April 2012

Amandit Jaya Kandangan Raya, Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan

TUMENGGUNG ANTALUDDIN :
Tumenggung Antaluddin adalah seorang Panglima Perang dalam Perang Banjar dengan pusat perjuangan di kawasan Gunung Madang Kandangan di kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan.Pada masa itu Pangeran Hidayatullah dan Demang Lehman meminta kepada Tumenggung Antaluddin untuk membuat benteng pertahanan di Gunung Madang. Pasukan Pangeran Hidayatullah, Demang Lehman dan pasukan Tumenggung Antaludin terkumpul di sekitar benteng ini pada bulan September 1860.
PANGLIMA BUKHARI DARI HANTARUKUNG : 
Panglima Bukhari dari Hantarukung (lahir : 1850 di Hantarukung, Simpur Kandangan, Hulu Sungai Selatan, wafat : 19 September 1899 di Hantarukung, Simpur Kandangan, Hulu Sungai Selatan). Panglima Bukhari adalah salah seorang pejuang Perang Banjar yang memimpin perlawanan rakyat yang disebut Amuk Hantarukung yang terjadi di masa Sultan Muhammad Seman bin Pangeran Antasari. Ayah Bukhari bernama Manggir dan ibu bernama Bariah kelahiran desa Hantarukung, dalam wilayah Kecamatan Simpur, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Bukhari dilahirkan sekitar tahun 1850 dan semasa mudanya mengembara ke Puruk Cahu (Murung Raya, Kalimantan Tengah) mengikuti pamannya Kasim yang menjadi panakawan (ajudan) dari Sultan Muhammad Seman. Sejak itu Sultan Muhammad Seman menjadikan Bukhari sebagai panakawan (ajudan) Sultan, dan Bukhari ikut berjuang di daerah Puruk Cahu, Kalimantan Tengah.Bukhari seorang yang setia mengabdikan dirinya. Ia orang yang dipercaya sebagai Pemayung Sultan. Ia dikenal di kalangan istana sebagai seorang yang mempunyai ilmu kesaktian dan kekebalan. Bahkan tersiar berita bahwa dengan ilmunya itu kalau ia tewas dapat hidup kembali. Ilmu ini diajarkan kepada siapa yang menjadi pendukungnya. Adanya kelebihan-kelebihan Bukhari tersebut, menyebabkan dia dan adiknya bernama Santar mendapat tugas untuk menyusun dan memperkuat barisan perlawanan rakyat terhadap Belanda di daerah Banua Lima, Kalimantan Selatan. 
GEROMBOLAN IBNU HAJAR : 
Ibnu Hajar, lahir di desa ambutun kandangan kabupaten hulu sungai selatan. Ibnu Hajar dengan nama asli Angli atau Haderi bin Umar, ayahnya berasal dari ambutun dan ibunya berasal dari suku dayak tepatnya di daerah puruk cahu kalimantan tengah. ketika masa kecil Ibnu Hajar adalah sosok yang pemberani. sampai menjelang dewasa dia bergabung dengan tentara pejuang pimpinan Brigjen Hasan Basri (Bapak Gerilya Kalimantan Divisi IV ALRI) yang juga berasal dari Padang Batung kandangan melawan penjajah belanda.Ketika saya berjalan-jalan ke Telaga Langsat dan sekitar Loksado, nama Ibnu Hajar seakan melegenda di benak mereka. Muncul pertanyaan, kenapa tokoh kita yang dicap oleh pemerintah sebagai pemberontak, akan tetapi di masyarakat pendukungnya ia ada dan melegenda. Saya sadar persis, dalam sejarah ada persoalan interpretasi. Tinggal kita memilih dari sudut mana Ibnu Hajar dilihat.
BRIGJEN H. HASAN BASRI : 
Brigjen H. Hasan Basri (lahir di Padang Batung Kandangan, Hulu Sungai Selatan, 17 Juni 1923 - meninggal di Jakarta, 15 Juli 1984 pada umur 61 tahun) adalah seorang tokoh militer Indonesia. Ia dimakamkan di Simpang Tiga, Liang Anggang, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Dianugerahi gelar Pahlawan nasional Indonesia dan Bapak Gerilya Kalimantan berdasarkan Surat Keputusan Presiden No. 110/TK/2001 tanggal 3 November 2001. 
PROKLAMASI KALIMANTAN SELATAN :
Merdeka!
Dengan ini kami rakjat Indonesia di Kalimantan Selatan, mempermaklumkan berdirinja Pemerintah Gubernur Tentara dari "A.L.R.I" melingkungi seluruh daerah Kalimantan Selatan mendjadi bagian dari Republik Indonesia, memenuhi Proklamasi 17 Agustus 1945 jang ditandatangani oleh Pres. Soekarno dan Wakil Pres. M. Hatta. Hal-hal yang bersangkutan dengan pemindahan kekuasaan akan dipertahankan dan kalau perlu diperdjuangkan sampai tetesan darah jang penghabisan.
Tetap Merdeka
Kandangan, 17 Mei Th. IV Rep.
Atas nama Rakjat Indonesia Di Kalimantan Selatan
Gubernur Tentara,
Hassan Basry