Kandangan

Rabu, 04 November 2026

AYAH DATU KALAMPAYAN

Mengenai asal-usul tempat lahir Syekh Abdullah bin Abu Bakar (ayah dari Datu Kalampayan), terdapat beberapa versi riwayat sejarah di kalangan sejarawan dan zuriat (keturunan) Banjar:

Versi Wilayah Pahuluan (Kampung Jambu, Kandangan)

Dalam catatan sejarah lokal dan penelitian ulama Banjar (seperti Tim LP2M UIN Antasari), terdapat riwayat yang menyebutkan bahwa Syekh Abdullah bin Abu Bakar berasal dari daerah Pahuluan, tepatnya di Kampung Jambu, dekat kota Kandangan (Hulu Sungai Selatan). Beliau didatangkan ke istana/keraton Kesultanan Banjar di Martapura karena keahliannya dalam bidang pertukangan, sebelum akhirnya menetap di Lok Bangku / Lok Gabang hingga akhir hayatnya.

Selasa, 03 November 2026

KANDANGAN KOTA PETARUNG

 Kota Kandangan—ibu kota Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan—sering dijuluki sebagai "Tanah Para Jawara", Bumi Para Pejuang, atau diasosiasikan sebagai wilayah dengan tradisi keberanian, seni bela diri, serta sejarah perlawanan yang kuat.

Beberapa hal utama di balik identitas dan sejarah tersebut meliputi:

• Akar Sejarah dan Perlawanan: Kandangan memiliki catatan sejarah penting sebagai pusat perlawanan rakyat terhadap penjajahan kolonial (seperti peristiwa heroik Amuk Hantarukung) dan menjadi basis pergerakan Divisi IV ALRI Kalimantan.

• Tradisi Hulu Balang dan Wasi (Senjata Tajam): Masyarakat lokal zaman dulu memiliki tradisi kepemimpinan dan pengawalan oleh para hulu balang serta jawara yang lekat dengan kebiasaan membawa senjata tajam tradisional khas seperti Parang Bungkul (yang juga diabadikan dalam simbol daerah Hulu Sungai Selatan). Senjata ini dahulu dipandang sebagai simbol kehormatan, harga diri, dan pertahanan diri.

• Pusat Beladiri Kuntau: Kandangan dikenal sebagai salah satu tempat berkembangnya berbagai aliran seni bela diri tradisional Banjar, salah satunya perguruan Kuntau seperti "Jasa Datu" yang kemudian melahirkan banyak cabang perguruan di Kalimantan Selatan.

• Perubahan Zaman: Seiring perkembangan hukum, aturan membawa senjata tajam di tempat umum, serta modernisasi, tradisi membawa wasi di keseharian sudah sangat berkurang. Generasi muda di Kandangan kini lebih mengarahkan semangat juang tersebut ke dalam prestasi, pendidikan, dan pembangunan daerah.

Senin, 02 November 2026

KANDANGAN KOTA PETARUNG

 Kota Kandangan, ibu kota Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan, memiliki sejarah panjang yang membuatnya kerap diasosiasikan sebagai wilayah para jawara, petarung, atau pusat perjuangan.

Beberapa alasan mengapa Kandangan lekat dengan identitas tersebut meliputi:
  • Pusat Perlawanan dan Revolusi: Secara historis, Kandangan menjadi salah satu pusat perlawanan penting pada masa revolusi fisik serta basis perjuangan Divisi IV ALRI Pertahanan Kalimantan. Wilayah ini dikenal melahirkan banyak pejuang dan gerilyawan tangguh.
  • Tradisi Hulu Balang dan Jawara: Masyarakat Kandangan pada masa lampau dikenal memiliki tradisi persilatan, ketangguhan bela diri, dan kebiasaan membawa senjata tajam tradisional (wasi) yang diwariskan dari para hulu balang serta penjaga keamanan wilayah (jawara).
  • Penolakan terhadap Kekuasaan Luar: Dalam cerita rakyat dan sejarah lokal, masyarakat Kandangan dikenal memiliki karakter mandiri dan keras dalam mempertahankan wilayahnya dari pengaruh atau dominasi luar (seperti riwayat penolakan tunduk terhadap kekuasaan kerajaan lama di Kalimantan).

Minggu, 01 November 2026

Kandangan Kota Petarung

 

KANDANGAN KOTA PETARUNG

Bumi Para Pejuang, Berjiwa Kesatria, Pantang Menyerah

Oleh: Kamal Ansyari

Kandangan merupakan ibu kota Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan. Kota ini tidak hanya dikenal dengan kekayaan kuliner seperti Ketupat Kandangan dan Dodol Kandangan, tetapi juga memiliki sejarah perjuangan, tradisi, serta karakter masyarakat yang kuat.

Ungkapan “Kandangan Kota Petarung” merupakan gambaran semangat dan kebanggaan terhadap jati diri masyarakat Kandangan. Petarung dalam konteks ini bukan sekadar orang yang berani mengangkat senjata atau bertanding secara fisik, melainkan pribadi yang memiliki keberanian, keteguhan hati, harga diri, dan semangat pantang menyerah dalam menghadapi kehidupan.

1. Kandangan dan Sejarah Perjuangan

Hulu Sungai Selatan memiliki catatan sejarah perjuangan rakyat Kalimantan Selatan dalam mempertahankan tanah air dan melawan penjajahan. Semangat perjuangan tersebut menjadi bagian penting dari identitas masyarakatnya.

Kisah perjuangan para pendahulu mengajarkan bahwa kemerdekaan, kehormatan, dan martabat bangsa harus diperjuangkan dengan keberanian dan pengorbanan.

Karena itu, semangat petarung hendaknya dimaknai sebagai keberanian membela kebenaran, menjaga kehormatan, dan memperjuangkan kehidupan yang lebih baik.

2. Parang Bungkul sebagai Identitas Budaya

Salah satu benda budaya yang memiliki hubungan dengan identitas Kabupaten Hulu Sungai Selatan adalah Parang Bungkul.

Parang Bungkul dikenal sebagai senjata tradisional khas daerah Kandangan dan menjadi salah satu unsur dalam lambang Kabupaten Hulu Sungai Selatan.

Keberadaan Parang Bungkul mengingatkan kita pada warisan budaya, keberanian, dan semangat masyarakat dalam menjaga jati diri daerah.

Parang bukan untuk mengajarkan kekerasan, tetapi menjadi pengingat sejarah dan tanggung jawab generasi penerus untuk melestarikan warisan leluhur.

3. Jiwa Petarung Masyarakat Kandangan

Jiwa petarung masyarakat Kandangan dapat diwujudkan melalui beberapa sikap:

  • Berani membela kebenaran dan keadilan.
  • Tidak mudah menyerah menghadapi kesulitan.
  • Menjaga kehormatan dan harga diri.
  • Memiliki semangat gotong royong.
  • Menghormati orang tua dan para pendahulu.
  • Menjaga adat istiadat dan budaya daerah.
  • Berani menghadapi tantangan zaman dengan ilmu pengetahuan.

Inilah makna petarung yang sesungguhnya: kuat dalam prinsip, santun dalam pergaulan, dan bertanggung jawab dalam kehidupan.

4. Kekayaan Budaya Kandangan

Kandangan mempunyai kekayaan budaya yang patut dibanggakan. Di antaranya:

  • Parang Bungkul sebagai warisan budaya daerah.
  • Ketupat Kandangan sebagai kuliner khas.
  • Dodol Kandangan sebagai makanan tradisional.
  • Bahasa Banjar sebagai identitas komunikasi masyarakat.
  • Tradisi keagamaan dan gotong royong.
  • Kekayaan budaya Dayak Meratus di kawasan Loksado, termasuk tradisi Aruh Ganal.

Kekayaan tersebut merupakan warisan yang harus dijaga dan diperkenalkan kepada generasi muda.

5. Generasi Muda sebagai Petarung Masa Kini

Pada masa sekarang, perjuangan tidak selalu dilakukan dengan senjata. Tantangan generasi muda jauh lebih luas, mulai dari pendidikan, ekonomi, teknologi, pergaulan, hingga menjaga moral dan akhlak.

Generasi muda Kandangan harus menjadi petarung dalam bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, kewirausahaan, olahraga, kebudayaan, dan pengabdian kepada masyarakat.

Jangan sampai generasi penerus hanya bangga dengan sejarah masa lalu, tetapi tidak mampu menciptakan prestasi pada masa sekarang.

Petarung sejati adalah mereka yang mampu mengalahkan kemalasan, mengendalikan hawa nafsu, menjauhi narkoba, menjaga persatuan, serta memberikan manfaat bagi orang lain.

6. Penutup: Menjaga Nama Baik Kandangan

Kandangan bukan hanya sebuah kota, tetapi juga bagian dari perjalanan sejarah dan kebudayaan masyarakat Hulu Sungai Selatan.

Semangat “Kandangan Kota Petarung” hendaknya menjadi motivasi untuk membangun masyarakat yang berani, berkarakter, berbudaya, religius, dan berprestasi.

Mari kita jaga warisan leluhur, hormati sejarah perjuangan, lestarikan budaya, dan bangun masa depan dengan ilmu pengetahuan serta akhlak mulia.

KANDANGAN KOTA PETARUNG!

Bumi Para Pejuang, Berjiwa Kesatria, Pantang Menyerah!

Berani karena benar, kuat karena bersatu, dan bermartabat karena berakhlak.

KANDANGAN KOTA PETARUNG

 KANDANGAN – KOTA PETARUNG

Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, memiliki sejarah panjang perjuangan dan keberanian masyarakatnya.

Julukan Kota Petarung dapat menjadi ungkapan kebanggaan terhadap:

Semangat Pejuang: mengenang perjuangan rakyat Hulu Sungai Selatan.

Keberanian: melambangkan keteguhan dan pantang menyerah.

Parang Bungkul: salah satu identitas budaya dan lambang daerah.

Jiwa Kesatria: menjunjung kehormatan, keberanian, dan tanggung jawab.

Harga Diri: menjaga adat, budaya, dan martabat daerah.

Minggu, 29 April 2012

Amandit Jaya Kandangan Raya, Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan

TUMENGGUNG ANTALUDDIN :
Tumenggung Antaluddin adalah seorang Panglima Perang dalam Perang Banjar dengan pusat perjuangan di kawasan Gunung Madang Kandangan di kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan.Pada masa itu Pangeran Hidayatullah dan Demang Lehman meminta kepada Tumenggung Antaluddin untuk membuat benteng pertahanan di Gunung Madang. Pasukan Pangeran Hidayatullah, Demang Lehman dan pasukan Tumenggung Antaludin terkumpul di sekitar benteng ini pada bulan September 1860.
PANGLIMA BUKHARI DARI HANTARUKUNG : 
Panglima Bukhari dari Hantarukung (lahir : 1850 di Hantarukung, Simpur Kandangan, Hulu Sungai Selatan, wafat : 19 September 1899 di Hantarukung, Simpur Kandangan, Hulu Sungai Selatan). Panglima Bukhari adalah salah seorang pejuang Perang Banjar yang memimpin perlawanan rakyat yang disebut Amuk Hantarukung yang terjadi di masa Sultan Muhammad Seman bin Pangeran Antasari. Ayah Bukhari bernama Manggir dan ibu bernama Bariah kelahiran desa Hantarukung, dalam wilayah Kecamatan Simpur, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Bukhari dilahirkan sekitar tahun 1850 dan semasa mudanya mengembara ke Puruk Cahu (Murung Raya, Kalimantan Tengah) mengikuti pamannya Kasim yang menjadi panakawan (ajudan) dari Sultan Muhammad Seman. Sejak itu Sultan Muhammad Seman menjadikan Bukhari sebagai panakawan (ajudan) Sultan, dan Bukhari ikut berjuang di daerah Puruk Cahu, Kalimantan Tengah.Bukhari seorang yang setia mengabdikan dirinya. Ia orang yang dipercaya sebagai Pemayung Sultan. Ia dikenal di kalangan istana sebagai seorang yang mempunyai ilmu kesaktian dan kekebalan. Bahkan tersiar berita bahwa dengan ilmunya itu kalau ia tewas dapat hidup kembali. Ilmu ini diajarkan kepada siapa yang menjadi pendukungnya. Adanya kelebihan-kelebihan Bukhari tersebut, menyebabkan dia dan adiknya bernama Santar mendapat tugas untuk menyusun dan memperkuat barisan perlawanan rakyat terhadap Belanda di daerah Banua Lima, Kalimantan Selatan. 
GEROMBOLAN IBNU HAJAR : 
Ibnu Hajar, lahir di desa ambutun kandangan kabupaten hulu sungai selatan. Ibnu Hajar dengan nama asli Angli atau Haderi bin Umar, ayahnya berasal dari ambutun dan ibunya berasal dari suku dayak tepatnya di daerah puruk cahu kalimantan tengah. ketika masa kecil Ibnu Hajar adalah sosok yang pemberani. sampai menjelang dewasa dia bergabung dengan tentara pejuang pimpinan Brigjen Hasan Basri (Bapak Gerilya Kalimantan Divisi IV ALRI) yang juga berasal dari Padang Batung kandangan melawan penjajah belanda.Ketika saya berjalan-jalan ke Telaga Langsat dan sekitar Loksado, nama Ibnu Hajar seakan melegenda di benak mereka. Muncul pertanyaan, kenapa tokoh kita yang dicap oleh pemerintah sebagai pemberontak, akan tetapi di masyarakat pendukungnya ia ada dan melegenda. Saya sadar persis, dalam sejarah ada persoalan interpretasi. Tinggal kita memilih dari sudut mana Ibnu Hajar dilihat.
BRIGJEN H. HASAN BASRI : 
Brigjen H. Hasan Basri (lahir di Padang Batung Kandangan, Hulu Sungai Selatan, 17 Juni 1923 - meninggal di Jakarta, 15 Juli 1984 pada umur 61 tahun) adalah seorang tokoh militer Indonesia. Ia dimakamkan di Simpang Tiga, Liang Anggang, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Dianugerahi gelar Pahlawan nasional Indonesia dan Bapak Gerilya Kalimantan berdasarkan Surat Keputusan Presiden No. 110/TK/2001 tanggal 3 November 2001. 
PROKLAMASI KALIMANTAN SELATAN :
Merdeka!
Dengan ini kami rakjat Indonesia di Kalimantan Selatan, mempermaklumkan berdirinja Pemerintah Gubernur Tentara dari "A.L.R.I" melingkungi seluruh daerah Kalimantan Selatan mendjadi bagian dari Republik Indonesia, memenuhi Proklamasi 17 Agustus 1945 jang ditandatangani oleh Pres. Soekarno dan Wakil Pres. M. Hatta. Hal-hal yang bersangkutan dengan pemindahan kekuasaan akan dipertahankan dan kalau perlu diperdjuangkan sampai tetesan darah jang penghabisan.
Tetap Merdeka
Kandangan, 17 Mei Th. IV Rep.
Atas nama Rakjat Indonesia Di Kalimantan Selatan
Gubernur Tentara,
Hassan Basry

Kamis, 22 Maret 2012

AMANDIT KANDANGAN, HULU SUNGAI SELATAN

1. Di Kalimantan Selatan produk budaya pada masa bercocok tanam ditemukan pada situs arkeologi yang diteliti oleh balai arkeologi Banjarmasin yaitu situs jambu hilir Kecamatan Kandangan Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS).
2. Situs jambu hilir sebagai bekas hunian kuno berciri prasejarah tapi masih mempertahankan tradisi neolitik dengan ciri-ciri artefak batu dengan unsur teknologi kapak persegi, manik-manik tanah liat, batu giling, perhiasan emas dan kuningan.
3. Salah satu bukti telah adanya pemanfaatan teknologi logam adalah temuan musi (musa) atau kowi yaitu wadah melebur emas dan kuningan di situs jambu hilir kandangan.
4. Selain musa dan wadah peleburan, menurut informasi penduduk jambu hilir kandangan di sana juga pernah ditemukan topeng emas dan alat-alat logam besi.
5. Ada beberapa produk budaya mesolitikum yang ditemukan, yaitu batu giling dan serpih dari jenis batu rijang dan batu pukul, bersama-sama dengan temuan gerabah di situs jambu hilir kandangan dan berasal dari masa bercocok tanam.
6. Teknologi situs jambu hilir kandangan masih sederhana, walaupun sudah menggunakan roda putar, tatap dan pelandas. Jadi pasirnya tidak di saring dan gerabah yang dihasilkan agak kasar.
7. Asal tempat benda prasejarah museum lambung mangkurat :
• Desa jambu hilir, Kecamatan kandangan
• Desa simpur, Kecamatan simpur
• Desa jambu hulu, Kecamatan padang batung
• Desa jambu hulu muka, Kecamatan padang batung
8. Kehidupan dengan rumah besar yang cara hidupnya seperti tersebut di atas masih terlihat nyata pada suku bukit meratus di Kecamatan Loksado.
9. Di Kecamatan Loksado, dimana dalam satu desa mereka mendirikan balai adat yang sekaligus menjadi tempat tinggal, dengan kamar atau ruangan mengelilingi rumah tengah tempat upacara tersebut. Satu kamar dihuni oleh satu keluarga.
10. Pangeran Tumenggung dari kerajaan Negara Daha mengalami kekalahan, lalu mundur dan bertahan di muara sungai Amandit.
11. Sultan Suriansyah yang sebelum masuk islam bernama Pangeran Samudera adalah pewaris sah dari kerajaan Negara Daha.
12. Daerah teritorial kerajaan banjar yang kedua meliputi daerah Amandit.
13. Di bawah wilayah inti terdapat unit politik yang disebut daerah-daerah kekuasaan termasuk Batang Amandit.
14. Yaitu meliputi Batang hulu, Kandangan, Jambu, Bamban dan Pangambau.
15. Salah seorang belanda yang berusaha keluar untuk pergi mencari bantuan ke Banjarmasin, dibunuh di Sungai raya.
16. Pada bulan September 1859 Demang lehman, bersama pimpinan lainnya seperti Pangeran Muhammad Aminullah, Tumenggung Jalil berangkat menuju Kandangan yang juga dihadiri oleh tokoh-tokoh pejuang dari segala pelosok banua Amandit.
17. Selain itu terdapat pula pahlawan wanita kiai cakrawati yang selalu menunggang kuda yang sebelumnya ikut dalam pertempuran Benteng Gunung Madang di Kandangan bersama Tumenggung Antaludin.
18. Hasil pertemuan bulan September 1859 antara pangeran Hidayat, pangeran Antasari, kiai Demang lehman dan tokoh-tokoh perjuangan lainnya di daerah Kandangan menetapkan pembagian daerah perjuangan dari banua lima sampai dusun atas.
19. Setelah meletusnya perang Amuk Hantarukung, Jenajah Bukhari, Landuk dan Mat amin dimakamkan di kampung Parincahan, Kecamatan Kandangan yang di kenal dengan makam Tumpang Talu.
20. Sedangkan sembilan orang lainnya dihukum gantung oleh belanda, kemudian di makamkan di kuburan Bawah Tandui di kampung Hantarukung, Kecamatan Simpur.
21. Di setiap persimpangan sungai yang strategis dibuat benteng pengawasan wilayah, dengan demikian muncul kota-kota seperti Kandangan dengan Benteng Hamawang di dalamnya.
22. Afdeling Kandangan dengan ibukota Kandangan, terdiri dari Onderafdeling Amandit dan Negara, yang terdiri lagi dengan District Amandit dan District Negara.
23. Onderafdeling Kandangan dengan ibukota Kandangan, diperintah oleh Asisten residen sebagai kepala afdeling dengan dibantu oleh seorang civiel gezaghebber.