KANDANGAN KOTA PETARUNG
Menelusuri Jejak Keberanian, Kepahlawanan, dan Jiwa Pejuang Urang Banua
Kandangan, Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan
Kandangan bukan sekadar sebuah kota kecil di jantung Hulu Sungai Selatan. Di balik kehidupan masyarakatnya yang religius, ramah, dan menjunjung tinggi adat istiadat, Kandangan menyimpan sejarah panjang tentang keberanian, perjuangan, dan semangat pantang menyerah.
Julukan Kandangan Kota Petarung bukan semata-mata menggambarkan masyarakat yang memiliki keberanian dalam menghadapi pertarungan fisik. Lebih dari itu, julukan ini mencerminkan karakter masyarakat yang memiliki jiwa pejuang, harga diri, keteguhan prinsip, serta keberanian mempertahankan tanah kelahiran.
1. Kandangan dan Sejarah Perlawanan
Sejarah Hulu Sungai Selatan tidak dapat dipisahkan dari perjuangan rakyat Banjar melawan penjajahan Belanda.
Pada masa Perang Banjar, kawasan Hulu Sungai menjadi salah satu wilayah penting dalam perjuangan rakyat mempertahankan kedaulatan dan kehormatan tanah Banua.
Salah satu peristiwa bersejarah adalah perlawanan rakyat Hantarukung pada September 1899. Peristiwa yang dikenal sebagai Amuk Hantarukung menjadi bukti bahwa keberanian rakyat Hulu Sungai Selatan telah tercatat dalam perjalanan sejarah perjuangan Kalimantan Selatan.
Perlawanan tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat Banua tidak mudah menyerah ketika menghadapi penindasan.
2. Parang Bungkul: Simbol Keberanian Urang Kandangan
Berbicara tentang Kandangan Kota Petarung, kita tidak bisa melupakan Parang Bungkul.
Parang Bungkul merupakan senjata tradisional yang memiliki bentuk khas dengan ujung melengkung atau membungkul. Bagi masyarakat Hulu Sungai Selatan, parang ini bukan hanya alat untuk bekerja, tetapi juga memiliki nilai sejarah dan budaya.
Pada masa lalu, parang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, baik untuk membuka lahan, bekerja di kebun, maupun sebagai alat pertahanan diri.
Parang Bungkul juga memiliki kedudukan istimewa dalam identitas daerah. Senjata tradisional ini menjadi salah satu unsur lambang Kabupaten Hulu Sungai Selatan sejak 5 September 1965.
Nilai yang terkandung di dalamnya adalah sifat kepahlawanan dan jiwa membangun.
Dengan demikian, Parang Bungkul dapat dipandang sebagai simbol keberanian, ketangguhan, dan semangat membangun masyarakat Kandangan.
3. Bakuntau dan Tradisi Bela Diri Banua
Kandangan juga memiliki hubungan erat dengan perkembangan seni bela diri tradisional Banjar, yaitu kuntau.
Kuntau bukan sekadar seni mempertahankan diri, melainkan bagian dari warisan budaya yang diwariskan antargenerasi.
Di Hulu Sungai Selatan terdapat sejumlah perguruan kuntau. Salah satu yang dikenal dalam sejarah perkembangan kuntau di daerah ini adalah Perguruan Jasa Datu di Kandangan.
Seni bela diri tersebut mengajarkan ketangkasan, kedisiplinan, keberanian, pengendalian diri, dan penghormatan kepada guru.
Inilah salah satu gambaran bahwa budaya petarung di Kandangan tidak hanya berbicara tentang kekuatan fisik, tetapi juga tentang ilmu, latihan, dan kehormatan.
4. Jiwa Petarung dalam Perjuangan Kemerdekaan
Semangat perjuangan masyarakat Kandangan terus terlihat pada masa revolusi kemerdekaan Indonesia.
Salah satu tokoh penting dari Kalimantan Selatan adalah Brigadir Jenderal Hasan Basry, pemimpin perjuangan ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan.
Perjuangan rakyat Kalimantan Selatan mencapai salah satu tonggak penting melalui Proklamasi 17 Mei 1949 yang menyatakan Kalimantan sebagai bagian dari Republik Indonesia.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa semangat mempertahankan tanah air merupakan bagian penting dari sejarah perjuangan masyarakat Banua.
Kandangan dan wilayah Hulu Sungai Selatan memiliki tempat tersendiri dalam perjalanan sejarah tersebut.
5. Petarung Bukan Berarti Suka Kekerasan
Julukan Kandangan Kota Petarung harus dimaknai secara bijaksana.
Petarung sejati bukanlah orang yang gemar mencari musuh atau melakukan kekerasan. Petarung sejati adalah mereka yang berani membela kebenaran, menjaga kehormatan, melindungi keluarga, mempertahankan budaya, dan memperjuangkan masa depan daerahnya.
Nilai seorang petarung terletak pada keberanian yang disertai akhlak, kekuatan yang disertai kebijaksanaan, serta ketegasan yang tetap menjunjung tinggi kemanusiaan.
Generasi muda Kandangan perlu mewarisi semangat tersebut melalui pendidikan, olahraga, seni bela diri, pelestarian budaya, dan prestasi.
6. Membangun Identitas Kandangan Kota Petarung
Sudah saatnya sejarah perjuangan dan warisan budaya Kandangan terus diperkenalkan kepada generasi muda.
Parang Bungkul, kuntau, kisah para pejuang, serta berbagai tradisi masyarakat Banua merupakan kekayaan identitas yang patut dijaga.
Kandangan tidak hanya dikenal melalui Ketupat Kandangan dan kekayaan kulinernya, tetapi juga melalui sejarah perjuangan dan karakter masyarakatnya.
Kita perlu membangun identitas daerah yang kuat dengan tetap menjaga nilai agama, adat, persaudaraan, dan budaya.
PENUTUP: DARAH PEJUANG, JIWA PEMBANGUN
Kandangan Kota Petarung adalah sebuah ungkapan tentang keberanian dan ketangguhan masyarakat Hulu Sungai Selatan.
Dari kisah perjuangan rakyat melawan penjajahan, warisan Parang Bungkul, seni bela diri kuntau, hingga perjuangan mempertahankan kemerdekaan, semuanya memberikan pelajaran tentang arti keberanian dan harga diri.
Namun, tantangan generasi sekarang bukan lagi mengangkat senjata untuk berperang, melainkan berjuang melalui ilmu pengetahuan, persatuan, agama, budaya, dan pembangunan.
Kandangan boleh dikenal sebagai Kota Petarung, tetapi petarung sejati adalah mereka yang berani menjaga kehormatan, membela kebenaran, dan membangun masa depan Banua.
Kandangan Kota Petarung: Berani dalam perjuangan, teguh dalam pendirian, santun dalam pergaulan, dan kuat dalam persatuan.